Betapa…

“Dalam kasus Bengkulu, korban betul-betul teraniaya. Tidak ada salah dan dosa.
Kemungkinan yang paling salah adalah ketika korban berjalan sendirian di pinggir kebun yang sangat sepi dan membuka ruang bagi para pelaku untuk berbuat jahat.”
– Ketua Komisi VIII DPR Saleh P Daulay –

 

Kau dengar dia bilang apa, Dik? Lucu sekali ya. Setelah mengatakan bahwa kau tak ada salah dan dosa, lalu Bapak yang terhormat itu katakan bahwa kau lah kemungkinan yang paling salah atas kebrutalan yang terjadi padamu. Kau, bocah yang baru menginjak usia 14 tahun, berjalan di siang hari bolong sepulang sekolah, memakai seragam pramuka. Kau, yang tak memakai pakaian seronok, perhiasan mencolok, dan tak keluyuran di malam hari. Kau, yang sudah dipukuli, diperkosa berulang kali hingga tubuhmu berubah bentuk, dibunuh, dan dibuang ke dasar jurang. Kau, yang sudah diperlakukan dengan sangat biadab dan dibuat tak bernyawa, ternyata masih dianggap berbuat sedikit kesalahan.

Menurutnya, kemungkinan yang paling salah adalah karena kau berjalan sendirian. Bukan karena 14 orang yang patungan membeli tuak, lantas menenggaknya. Baginya, keputusanmu untuk berjalan kaki sendirian lebih salah daripada keputusan pemuda-pemuda itu membeli tuak dan meminumnya. Barangkali menurutnya juga, tuak itulah yang lebih patut dipenjara dan dijatuhi hukuman, bukan 14 manusia yang sudah melakukan perbuatan bejat terhadapmu. Apakah dunia ini sudah dianggap begitu brutal, dan kebrutalan itu sudah sangat ditolerir, sehingga keputusanmu berjalan sendirian pun patut dicatat sebagai sebuah kesalahan karena membuka kesempatan bagi terjadinya sebuah kebiadaban.

Jangan terkejut, Dik… Bapak yang terhormat itu bukan satu-satunya. Dulu, ada seorang (mantan) calon hakim agung yang mengatakan bahwa ketika terjadi perkosaan, sebenarnya yang memperkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati. Tahun lalu, ada seorang Bupati yang mengatakan bahwa perempuan yang berpakaian tak sopan memang layak diperkosa. Dan mungkin masih banyak lagi orang yang diam-diam memiliki pemikiran yang sama dalam benak mereka.

Aku sebenarnya ingin sekali bersikap biasa-biasa saja saat membacanya. Ingin sekali menganggapnya sebagai ucapan selintas, tak dimaksudkan. Tapi bukankah justru ada yang salah ketika kita menganggap ucapan semacam itu baik-baik saja? Tidakkah ucapan dan pernyataan itu menjadi bukti betapa telah mengakarnya sebuah pemahaman pada pikiran orang yang mengatakannya. Ya, pemahaman bahwa ketika pemerkosaan terjadi, maka perempuan lah yang terlebih dulu harus bercermin, menunjuk diri sendiri. Pemahaman bahwa perempuan seharusnya tak ‘berulah’ jika tak ingin diperkosa. Pemahaman bahwa sekeji apapun perlakuan yang telah diterima, para perempuan itu tetap saja menanggung salah.

Duh, betapa perempuan… selalu menjadi kambing hitam. Berpakaian terbuka, ia disebut sundal. Layak diperkosa. Berpakaian tertutup pun, ia masih layak diperkosa, karena keluar malam-malam. Dan kau… bahkan di siang hari bolong dan mengenakan seragam sekolah, kau masih dipersalahkan karena berjalan pulang sendirian. Tapi tentu tidak. Tak ada yang salah ketika kau ingin pulang berjalan kaki sendirian. Bukan salahmu, seperti juga bukan salah para perempuan yang telah dilecehkan atau diperkosa. Di dunia ini tak ada satupun perempuan yang layak diperkosa, Dik. Tak ada. Dan bukanlah kau atau para perempuan korban perkosaan itu yang patut dipersalahkan. Sungguh bukan. Mereka lah, Dik. Mereka lah!

Dan mereka, 14 pemuda itu, hanya dituntut 10 tahun, Dik.. 10 tahun saja untuk nyawamu yang hilang selamanya. Para pengadil ragu menjatuhi hukuman mati sebab mereka dianggap belum cukup usia. Padahal para bajingan itu tak ragu memperkosa dan membunuh bocah yang juga belum dewasa. Mereka ingin diberi kesempatan hidup untuk bertobat. Padahal mereka bahkan tak memberi kesempatan secuil pun saat kau meronta dan meregang nyawa. Mereka bilang hukuman kebiri terlalu kejam. Padahal yang mereka lakukan pada tubuhmu beribu kali lebih kejam!

Duh, betapa… kita masih harus mengemis untuk keadilan. Bagiku sendiri, Dik… hanya ada dua hal yang layak untuk mereka: kebiri atau mati!

– S –

5 thoughts on “Betapa…

  1. Pernyataan semacam ini memang paling menjijikkan. Yang salah adalah pola pikir semacam ini, bahwa kesalahan selalu ditimpakan pada korban yang dinilai memicu atau membuka ruang bagi kejahatan. Justru kesalahan itu ada pada mental pelaku yang tak bisa menahan hawa nafsu dan membiarkan dirinya berbuat jahat. Dan kesalahan itu akan tetap ada selama masyarakat tak peduli dan tak mau memperbaiki akhlak generasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s